Tidak hanya tentara Belanda saja yang pernah hidup di Benteng Van Der
Wijck. Akan tetapi, banyak juga orang-orang penting dari Indonesia yang pernah
hidup di benteng ini. Seperti Soeharto
saat menjadi anggota KNIL. Benteng Van Der Wijck terletak di Desa Sedayu,
Kecamatan Gombong, Kebumen, Jawa Tengah.
Benteng kokoh berwarna merah ini,
telah berganti-ganti fungsi. Sejak dibangun sekitar tahun 1825-1830, Benteng
ini digunakan sebagai tempat pertahanan.
Namun sejumlah ahli meyakini bahwa benteng ini bukan merupakan benteng
pertahanan, tetapi benteng logistik dan Puppilen School (sekolah calon militer).
Benteng ini dibangun pada awal
abad 19, seiring dengan meluasnya pemberontakan Diponegoro.
Pemberontakan ini, sangat
merepotkan pemerintah kolonial Belanda karena Diponegoro didukung beberapa
tokoh elit di Jawa bagian Selatan. Oleh sebab itu,
Belanda menerapkan taktik benteng stelsel yang artinya
daerah yang dikuasai segera dibangun benteng.
Gubernur jenderal Van
den Bosch
adalah tokoh
yang memprakarsai pendirian benteng ini.
Tujuan dibangunnya Benteng ini sebagai tempat
pertahanan (sekaligus penyerangan) di daerah karesidenan Kedu Selatan. Adanya aturan sitem kerja rodi ( kerja paksa ) pada masa itu, banyak benteng yang
dibangun karena ada aturan bahwa penduduk harus membayar pajak dalam bentuk
tenaga kerja.
Sebelumnya gubernur jenderal Deandels punya proyek serupa yaitu
jalan raya pos (Anyer – Penarukan, sepanjang l.k. 1.000 km), juga dengan kerja
rodi. Tentu saja cara ini membuat penduduk kita makin menderita. Dilihat
dari bentuk bangunan, pembangunannya sezaman dengan benteng Willem (Ambarawa)
dan Prins Oranje (Semarang – kini sudah hancur).
Nama Fort Cochius (Benteng Cochius) diambil dari salah
seorang perwira militer Belanda (Frans David Cochius) yang pernah ditugaskan di
daerah Bagelen (salah satu wilayah karesidenan Kedu), yaitu digunakan untuk nama benteng dengan tinggi tembok 10 m.
Pada
bagian depan pintu masuk tercantum nama
Van der Wijck, yang tercantum pada bagian depan pintu masuk.
Van der Wijck merupakan
salah seorang perwira militer Belanda yang pernah menjadi komandan di Benteng
tersebut. Reputasi van der Wijck ini cukup cemerlang karena salah satu jasanya
adalah membungkam para pejuang Aceh, tentunya dengan cara yang kejam. Pada
zaman Jepang, benteng ini dimanfaatkan sebagai barak dan tempat latihan para pejuang PETA.
Dilihat dari fisiknya, Luas Benteng
atas 3606,625m2. Benteng bawah 3606,625 m2. Tinggi Benteng 9,67 m, dan ditambah pula
cerobong 3,33 m. Ada juga 16 barak dengan ukuran masing-masing 7,5 x 11,32 m. Barak ini telah mengalami renovasi yang cukup bagus. Akan tetapi, disayangkan renovasi ini kurang memperhatikan kaidah konservasi bangunan
bersejarah mengingat bangunan ini potensial sebagai salah satu warisan budaya
(cultural heritage).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar